tri.dewi500410's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Kegigihan untuk Menggapai Cita-Cita ( Cerita Inspirasi II )

 

Nama  : Tri Wahyuni Puspa Dewi

NRP   : F34100062

Laskar : 20

            Ini merupakan pengalaman salah satu teman saya, sebut saja Ani, yang selalu gigih dalam menggapai cita-citanya walaupun pernah gagal dalam pencapaian itu. Ani yang tak pantang menyerah untuk menggapai cita-citanya merupakan salah satu sumber inspirasi saya untuk dapat berperilaku seperti dia. Pengalaman ini dimulai sejak ia berada di bangku SMP.

            Saya dan Ani merupakan teman dekat saat SD. Ani adalah sosok perempuan yang baik dan pintar. Betapa senang dan beruntungnya saya saat tahu saya dan Ani masuk di SMP yang sama. Di SMP kami selalu belajar bersama dan mengobrol layaknya sahabat. Suatu hari Ani pernah berbicara bahwa ia ingin menjadi seorang dokter. Awalnya, saat saya mendengar hal itu saya kaget Ani ternyata mempunyai cita-cita seperti itu. Namun lama-kelamaan saya berpikir itu adalah cita-cita yang sangat mulia. Oleh karena itu, sejak saat itu, saya mendukung cita-cita Ani tersebut.

            Hari berganti hari. Ani terus menunjukkan prestasi yang baik di SMP. Sampai saat kelulusan pun tiba. Ani mendapatkan NEM yang lebih tinggi dibandingkan saya. Akhirnya Ani memutuskan untuk masik ke SMA yang mempunyai peringkat pertama di kota kami dan saya pun masuk ke SMA yang tidak kalah baiknya. Kami sedih karena harus berpisah tapi kami berdua selalu mendukung apa yang dilakukan dan diinginkan kami satu sama lainnya.

            Di SMA Ani mempunya prestasi yang gemilang. Ia selalu mendapatkan rangking 5 besar. Ia pun semakin bersemangat untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Tapi orangtua Ani menyarankan kepada Ani untuk mengikuti seleksi PTN yang menggunakan hasil nilai rapot. Ani pun menuruti nasihat orangtuanya dan hasilnya pun menggembirakan. Ani diterima di PTN tersebut dan masuk ke dalam jurusan yang mempunya peringkat satu di sana dan sangat diminati oleh semua orang.

            Tetapi Ani tidak menyerah untuk menggapai cita-cita yang diinginkannya sejak SMP tersebut. Ia pun mendaftar untuk ikut ujian seleksi mandiri suatu PTN terkemuka dan tentu saja mengambil jurusan kedokteran. Pada saat ujian ia sangat yakin akan jawabannya tetapi saat hasil pengumuman telah keluar ia mendapatkan namanya tidak ada dalam daftar peserta yang diterima. Ia sangat sedih dan terpukul melihatnya. Saya, sebagai seorang sahabat, hanya bisa menghibur dan menyemangati untuk mengikuti ujian seleksi masuk PTN yang lain. Ani pun bersemangat kembali untuk mengikuti tes-tes yang lain demi mengejar cita-citanya. Ia pun mengikuti kembali ujian mandiri PTN yang lain dan hasilnya pun nihil. Ia mulai merasa putus asa dengan keadaan. Ia merasa mungkin ia tidak akan bisa mencapai cita-citanya itu.

            Sampai suatu hari tinggal satu tes terakhir yang ia ikuti yaitu SNMPTN. Ia sengaja memilih universitas negeri yang jauh dari kota kami untuk menggapai cita-citanya itu. Ia berpikir mungkin bila ia mengambil jurusan kedokteran di universitas yang lain ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan itu pun ternyata berhasil dan menjadi kenyataan. Ani pun diterima di universitas negeri tersebut dan masuk jurusan kedokteran. Ani sangat senang sekali, begitu pula saya. Saya senang karena Ani dapat menjalani pendidikan dokter untuk menggapai cita-cita yang sangat ia inginkan tetapi saya juga sedih karena kami harus berpisah dan menuntut ilmu di kota yang berbeda. Tapi saya tetap mendukungnya dan berusaha untuk tetap senang.

            Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Ani langsung mengundurkan diri dari PTN yang telah menerimanya dan dari jurusan yang sangat didambakan semua orang. Awalnya orang-orang yang mendengar hal itu sangat tidak senang kepada Ani karena dengan mudahnya melepas jurusan itu. Tapi Ani membiarkan orang-orang yang memikirnya seperti itu. Ia tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan kedokteran.

            Saya bangga terhadap Ani yang tidak pernah menyerah dan putus asa dalam menggapai ilmu untuk mencapai cita-citanya. Sejak saat itu, Ani selalu menjadi inspirasi bagi saya untuk tetap bersemangat dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita saya. Terima kasih Ani.

 

Ketidakputusasaan yang Membuahkan Prestasi ( Cerita Inspirasi I )

 

           

Nama : Tri Wahyuni Puspa Dewi

NRP    : F34100062

Laskar : 20

             Ini merupakan salah satu pengalaman terbaik saya. Namun saya sendiri juga bingung apabila ditanya apakah ini merupakan pengalaman yang baik atau buruk karena pengalaman saya ini buruk di awal namun membuahkan hasil yang sangat baik di akhir.

            Saat saya mulai memasuki jenjang pendidikan di tingkat SMP, saya duduk di kelas 7. Di semester pertama, alhamdulillah saya mendapat peringkat pertama di kelas. Namun, pada saat memasuki semester kedua prestasi saya mulai melemah.

            Suatu hari saya dan teman-teman sekelas sedang belajar pelajaran matematika, tapi saya lupa saat itu kami sedang membahas materi apa. Guru saya menjelaskan materi tersebut lalu setelah itu beliau memberi saya dan temen-teman latihan soal dari materi tersebut. Saat mengerjakan latihan soal itu, saya tidak mengerti bagaimana cara untuk menyelesaikan soal-soal itu. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya kepada guru saya. Namun, begitu saya maju ke depan kelas untuk bertanya tiba-tiba teman-teman sekelas saya langsung mengejek saya dengan kalimat yang hampir sama, seperti ”Katanya rangking satu tapi soal yang seperti ini saja tidak bisa.” Saya merasa sedih dan sakit hati mendengar kata-kata itu, lalu saya mengurungkan niat untuk bertanya kepada guru saya.

            Sejak peristiwa itu saya sempat merasa rendah diri, malu terhadap diri sendiri, dan putus asa. Tapi beberapa bulan kemudian saya merasa harus bangkit dari keputusasaan ini dan tidak boleh selemah ini. Saya harus menunjukkan kepada teman-teman dan orang-orang di sekeliling saya bahwa saya bisa. Saya bisa meraih prestasi yang lebih baik dari yang sebelumnya. Saya bertekad untuk itu.

            Sejak ketekadan yang saya putuskan itu, akhirnya saya mendapatkan ranking 10 besar di kelas 9 dan saat lulus SMP, saya dapat masuk di salah satu SMA negeri terbaik di kota saya. Di SMA pun saya sangat bersyukur karena saya selalu mendapatkan rangking 5 besar di kelas.

            Saya bersyukur sekali atas prestasi yang dapat saya raih dan saya pun sangat senang dapat membuat diri saya dan orangtua saya bangga. Dengan demikian saya dapat membuktikan kepada teman-teman bahwa saya bisa bangkit dari keputusasaan dan memperoleh prestasi yang lebih baik dari sebelumnya.

            Itulah akhir dari pengalaman saya ini. Semoga dengan saya membagi pengalaman saya ini, orang-orang yang membaca dapat terinspirasi dan dapat bangkit dari keputusasaan.

 

blog baruuuu ipb !!

 

setelah nunggu lebih dari sejam, akhirnya  masuk ke cyber jugaa …